Mengejar Awan (Thich Nhat Hanh)

Apa itu kebahagiaan sejati? Seringkali kita berpikir bahwa kita tidak bisa bahagia jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ada sejuta cara untuk bahagia, karena kita tidak mengetahui bagaimana membuka pintu menuju kebahagiaan, kita hanya mengejar hal-hal yang kita inginkan. Kenyataannya adalah, semakin kamu mengejar kebahagiaan, kamu semakin menderita.

Aku punya sebuah cerita menarik untukmu tentang sebuah sungai kecil yang mengalir turun dari puncak gunung. Sungai kecil ini masih sangat muda, dan tujuan dia adalah mencapai laut. Ia hanya ingin berlari secepat-cepatnya. Tetapi ketika ia mencapai daratan, dataran rendah, dan hamparan di bawahnya, ia mulai mengalir pelan; sungai kecil menjadi sungai. Sebuah sungai tidak dapat mengalir secepat sungai kecil yang masih muda.

Mengalir perlahan-lahan, ia mulai memantulkan awan di langit. Ada banyak jenis awan dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam. Segeralah sungai tersebut menghabiskan seluruh waktunya mengejar awan satu demi satu. Tetapi awan-awan itu tidak akan tinggal diam, mereka datang dan pergi, dan sungai mengejar awan terus. Ketika sungai itu melihat tidak ada awan yang ingin tinggal bersamanya, hal itu membuat dia sangat sedih dan ia menangis.

Suatu hari, ada angin kencang yang meniup pergi seluruh awan. Langit menjadi biru terang. Akan tetapi karena di sana tidak ada awan, sungai itu mulai berpikir bahwa hidup ini sudah tidak berarti lagi. Dia tidak tahu bagaimana menikmati langit biru. Ia sadar bahwa langit tersebut kosong, dan hidupnya juga tampak kehilangan arti.

Malam itu, rasa putus asanya begitu berat sehingga ia ingin bunuh diri. Tetapi bagaimana sebuah sungai membunuh dirinya sendiri? Dari seseorang kamu tidak dapat menjadi bukan seseorang; dari sesuatu kamu tidak dapat menjadi tanpa sesuatu. Sepanjang malam, sungai tersebut menangis, air matanya membasahi pinggiran sungai. Itu adalah pertama kalinya ia kembali kepada dirinya sendiri. Sebelumnya, ia selalu melarikan diri. Kebahagiaan yang seharusnya bisa ditemukan di dalam dirinya, namun dia malahan mencari kebahagiaan di luar sana. Jadi untuk pertama kalinya ia kembali ke dalam dirinya sendiri dan mendengarkan suara dari air matanya, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: dia menyadari bahwa dirinya sendiri ternyata terbentuk dari awan.

Hal ini aneh. Dia telah mengejar-ngejar awan, berpikir bahwa ia tidak akan bahagia tanpa awan, namun dia sendiri terbentuk dari awan. Apa yang ia cari-cari telah ada di dalam dirinya.

Kebahagiaan bisa saja bentuknya seperti itu. Jika kamu mengetahui bagaimana untuk kembali ke sini dan saat ini, kamu akan menyadari bahwa elemen-elemen kebahagiaan telah tersedia untukmu. kamu tidak perlu mengejar kebahagiaan itu lagi.

Seketika itu juga, sungai tiba-tiba sadar akan sesuatu yang terpantulkan pada permukaannya yang sejuk dan tenang. Itu adalah langit biru. Begitu damai, begitu solid, langit biru tersebut begitu bebas. Hal ini mengisi dirinya dengan kebahagiaan. Ia mampu memantulkan langit itu untuk pertama kalinya. Sebelumnya, ia hanya memantulkan dan mengejar-ngejar awan. Dia telah sepenuhnya mengesampingkan kehadiran langit yang biru, berharga, dan solid yang selalu tersedia untuknya. Dia tidak memperhatikan bahwa kebahagiaan terbentuk oleh soliditas, kebebasan, dan ruang. Hari itu adalah malam transformasi yang mendalam, dan air mata serta penderitaannya telah berubah menjadi sukacita dan kedamaian.

Keesokan paginya, angin berhembus dan awan-awan kembali. Sekarang sungai sadar bahwa ia dapat memantulkan awan tanpa keterikatan, dengan sikap tidak membeda-bedakan. Setiap kali segumpal awan datang, ia berkata, “Halo, awan.” Dan ketika awan itu pergi, ia tidak sedih sama sekali serta memberitahukannya, “Aku akan bertemu denganmu lagi suatu hari nanti.” Sekarang ia mengerti bahwa kebebasan dia adalah landasan dasar kebahagiaan dirinya. Dia sudah berlatih untuk berhenti dan tidak berlari lagi.

Dicuplik dari buku “Di bawah Pohon Jambu Air” – Thich Nhat Hanh

Tinggalkan sebuah Komentar

Quote

“Smile, breathe and go slowly.”

“Because you are alive, everything is possible.”

“My actions are my only true belongings.”

“Life is available only in the present moment.”

“Our own life has to be our message.”

“I promise myself that I will enjoy every minute of the day that is given me to live.”

Dalam cinta sejati, Anda mencapai kebebasan.”

“Breathing in, there is only the present moment.
Breathing out, it is a wonderful moment.”

Jika cinta kita hanyalah keinginan untuk memiliki, itu bukanlah cinta.”

If our love is only a will to possess, it is not love.”

“If you love someone, the greatest gift you can give them is your presence”

“Jika Anda mencintai seseorang, karunia terbesar yang dapat Anda berikan adalah kehadiran Anda”

If you love someone but rarely make yourself available to him or her, that is not true love.”

Jika Anda mencintai seseorang tapi jarang membuat diri Anda tersedia untuk dia, itu bukan cinta sejati. “

http://www.goodreads.com/author/quotes/9074.Thich_Nhat_Hanh?page=2

Because of your smile, you make life more beautiful.”

You must love in such a way that the person you love feels free.”

Anda harus mencintai sedemikian rupa sehingga orang yang kau cintai merasa bebas. “

“Happiness does not come from consumption of things.”

Only the present moment contains life.”

Know that life can only be found in the present moment.”

Tinggalkan sebuah Komentar

28 langkah menuju kebahagiaan oleh Sheikh `A’id Al-Qarni

Berikut ini adalah tips-tips untuk mencapai kebahagiaan yang diberikan oleh Sheikh `A’id Al-Qarni (Pengarang buku La Tahzan / Jangan bersedih):

1. Apabila anda berada pada pagi hari, jangan menunggu datangnya waktu sore. Hiduplah dalam batasan hari ini saja. Curahkan perhatian anda untuk memperbaiki hari ini. Hal ini dijelaskan dalam hadits berikut:

“Ketika kamu di sore hari, jangan mengharap untuk melihat esok pagi, dan ketika anda di pagi hari jangan mengharap untuk melihat sore hari.”(Al-Bukhari)

2. Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian yang
terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohon.

3. Biarkan masa depan datang dengan sendirinya. Jangan mencemaskan hari esok, kerana jika anda telah memperbaiki hari ini, pastilah hari esok akan baik pula.

4. Jangan mudah tergoncang pada kritikan. Jadilah orang yang teguh pendirian dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri Anda setara dengan kritikan tersebut.

5. Yakinlah kepada Allah SWT dan berbuat baik; kedua hal itu adalah resep agar hidup anda lancar dan bahagia.

6. Ketahuilah, bahwa dengan dzikir kepada Allah, hati menjadi tenang dan dosa akan terhapus. Dengan dzikir pula, Zat Yang Maha Mengetahui segala hal yang ghaib akan meridhai dan segala kesusahan akan sirna.

7. Anda harus tahu dengan pasti bahwa semua yang terjadi telah sesuai qada’ nya.

8. Jangan pernah mengharap ucapan terima kasih dari orang lain. Cukup bagi anda pahala yang diberikan oleh Dzat tempat bergantung semua makhluk. Anda tak perlu takut kepada orang kufur, pendendam, dan iri.

9. Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk

10. Mungkin yang telah terjadi adalah yang terbaik untuk anda meskipun anda belum memahaminya kenapa bisa seperti itu.

11. Semua qadha’ bagi seseorang muslim baik adanya.

12. Hitunglah segala nikmat yang telah Allah berikan kepada anda dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat tersebut.

13. Keadaan anda lebih baik dibanding yang lain.

14. Kemudahan selalu ada bahkan di tiap kesusahan akan ada kemudahan.

15. Ketika dalam kesulitan seseorang harus selalu shalat dan berdoa sedangkan ketika diberikan kemudahan seseorang harus bersyukur dan berterimakasih.

16. Bencana-bencana yang datang menguji anda semestinya memperkuat hati anda dan membentuk kembali pandangan anda dalam cara yang positif.

17. Jangan biarkan hal-hal yang sepele menjadi sebab kehancuran anda.

18. Selalu ingat bahwa Tuhanmu adalah Maha Pengampun.

19. Kembangkan sikap luwes dan hindari marah.

20. Kehidupan ini tak lebih hanya sekedar roti, air dan bayangan. Maka tak usahlah bersedih jika semua itu ada.

(Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan
terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.) (Adz-Dzaariyaat 51: 22)

21. Sesuatu yang paling jahat yang semestinya terjadi akhirnya tidak pernah terjadi.

22. Lihatlah mereka yang diberikan kesusahan lebih daripada kita dan bersyukurlah bahwa kita diberikan sedikit kesusahan dibanding mereka.

23. Camkan di pikiran bahwa Allah SWT mencintai mereka yang tabah dalam menghadapi ujian, jadilah seperti salah satu dari mereka.

24. Secara rutin ucapkanlah doa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika kita menjalani masa-masa sulit.

25. Bekerja keraslah pada sesuatu yang menghasilkan dan jauhi kemalasan.

26. Jangan menyebarkan gosip dan jangan pula mendengarkannya. Jika anda mendengar gosip secara tidak sengaja maka janganlah mempercayainya.

27. Ketahuilah bahwa kebencian dan usaha anda untuk membalas dendam lebih berbahaya bagi kesehatan anda sendiri dibandingkan ke musuh anda.

28. Kesukaran yang menimpamu akan menghapus dosa-dosamu seandainya kamu bersabar.

Tinggalkan sebuah Komentar

Anda Memang Sukses, Tapi, Apa Anda Bahagia?

Anda Memang Sukses, Tapi, Apa Anda Bahagia?

Posted Fri, 09/30/2011 – 19:31

Penulis:

Arvan Pradiansyah

Seorang professor yang pikun terlambat memberi kuliah. Ia masuk ke dalam sebuah taksi dan berseru, “Cepat! Ngebut!”
Di tengah-tengah aksi ngebut itu, sang professor tiba-tiba ingat bahwa ia belum memberi tahu si sopir kemana ia akan pergi. Ia bertanya kepada sopir, “Tahu kemana tujuan saya?”
Tidak, Pak,” kata sopir, “tetapi saya sedang ngebut dan mengemudikan taksi ini secepat-cepatnya.”
Mungkin Anda tertawa melihat kekonyolan professor pikun ini. Tapi tanpa disadari kitapun sering melakukan hal serupa. Kita sibuk bekerja secepat-cepatnya dan sekeras-kerasnya. Kita berlari dari satu meeting ke meeting yang lain. Kita sibuk menggenjot penjualan, dan merancang berbagai strategi untuk membuat produk kita laku. Penjualan, produksi, profit, dan target adalah kosa kata kita sehari-hari. Sebagai professional kita memang dibayar untuk itu.
Namun kesibukan bekerja seringkali membuat kita lupa merenungkan arti hidup ini. Kita bergerak begitu saja, secepat-cepatnya. Kita tidak tahu apakah yang kita lakukan ini sesuatu yang genting (urgen) atau penting. Kesibukan membuat kita lupa apakah kita hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup. Kita tidak sempat merencanakan dan mengatur hidup kita. Kita membiarkan orang lain atau situasi mengaturnya untuk kita. Banyak orang yang membiarkan hidupnya mengalir seperti air. Mereka lupa bahwa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Padahal hidup akan terasa indah kalau kita sendiri yang menjadi sutradaranya, bukan orang lain, bukan bos Anda, bukan klien Anda, bukan pula target Anda. Andalah – bukan siapa-siapa – yang menentukan nasib Anda sendiri. Jack Welch, mantan CEO General Electric yang legendaris itu pernah merumuskannya dalam bahasa yang singkat namun cukup menohok, ”Create Your Own Destiny or Someone Else Will!”
Lupa merencanakan tujuan hidup kita adalah seperti mendaki gunung Bromo. Anda mempersiapkan bekal yang cukup dan melakukan pendakian dengan hati-hati. Anda selamat sampai ke puncak gunung dan baru menyadari bahwa yang Anda daki bukanlah gunung Bromo tetapi gunung Salak. Anda juga bisa mendaki karir Anda sampai ke puncak untuk kemudian menyadari bahwa Anda berada di jalur salah. Anda bisa saja sangat sukses dalam pekerjaan tetapi jauh di lubuk hati Anda, Anda merasakan kesepian dan kehampaan.  Anda tidak menikmati apa yang Anda lakukan.
Kebahagiaan dalam hidup ini akan dapat Anda raih bila Anda melakukan sesuatu yang benar-benar Anda nikmati. Ada cerita mengenai seorang eksekutif muda yang bekerja di bidang telekomunikasi. Ia punya rumah besar, mobil yang mewah dan menikmati berbagai fasilitas sebagai eksekutif papan atas. Suatu ketika ia berjumpa kawan lamanya yang menanyakan apa yang penting baginya. Pertanyaan ini cukup mengejutkan karena sepanjang hidupnya ia tak pernah memikirkan hal itu. Namun setelah didesak keluarlah beberapa hal yang menurutnya penting. Ia menyebutkan mimpi-mimpi dan segala hal yang ingin dilakukannya. Ternyata tak satupun yang ada hubungannya dengan pekerjaannya.
Kawannya kemudian bertanya, ” Lalu, apa kamu bahagia?” Eksekutif muda ini menjawab, ”Tidak.” ”Tapi kamu sukses kan?” sambung kawannya. Ia tak menjawab. Dari matanya nampak bahwa pikirannya sedang menerawang.
Ternyata obrolan singkat itu membuat eksekutif muda ini merenungkan hidupnya. Ia mulai berpikir apakah ia sedang melakukan apa yang benar-benar ingin ia lakukan dalam hidupnya. Ternyata tidak. Maka iapun mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mulai melakukan hal-hal yang sungguh ia sukai. Sejak dulu sebenarnya ia sangat suka bekerja dengan kayu. Ia kemudian memulai perusahaan kontraktor. Dan yang terpenting, ia benar-benar  bahagia dengan apa yang  ia lakukan.
Kebahagiaan memang tidak sama dengan kesuksesan. Anda hanya bisa bahagia kalau Anda melakukan apa yang Anda inginkan. Anda hanya bisa bahagia kalau Anda menjadi sutradara terhadap kehidupan Anda sendiri. Dan itu semua harus dimulai dengan melakukan perenungan mengenai apa yang penting bagi Anda sendiri. Apa yang penting bagi kita bisa sangat berbeda dengan apa yang penting bagi orang lain.
Ada sebuah cerita menarik mengenai seorang eksekutif yang tengah berlibur di sebuah desa. Suatu siang ia berjumpa dengan seorang nelayan yang sedang asyik bermain dengan kedua anaknya. Eksekutif ini bertanya kenapa si nelayan tak bekerja lebih keras, padahal hidupnya masih kekurangan. “Katakan, apa yang dapat saya lakukan!” ujar nelayan. “Belilah kapal yang lebih besar!” kata si eksekutif. “Dengan demikian Anda bisa menangkap ikan lebih banyak”.  Nelayan kembali bertanya, “Dengan ikan yang lebih banyak, apa yang dapat saya lakukan?” “Juallah ke kota, Anda akan mendapat uang banyak,” lanjut si eksekutif.  “Dengan uang itu, Anda dapat membangun rumah yang bagus dan menyekolahkan anak-anak sehingga menjadi orang yang pintar. Nah, dengan semua yang kau miliki itu kau akan sangat berbahagia.” Mendengar hal itu si nelayan tertawa terbahak-bahak, “Kalau kebahagiaan yang saya cari, buat apa repot-repot. Sekarangpun saya sudah sangat bahagia!”
Kebahagiaanlah yang kita cari, bukan sekedar kesuksesan. Sayangnya kesibukan kita sebagai manusia modern seringkali membuat kita mengejar kesuksesan dan lupa mencari kebahagiaan. Kita hidup seperti robot-robot yang dikendalikan oleh orang lain, pekerjaan dan lingkungan kita. Kita tak tahu mau pergi kemana. Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah lagu yang inspiratif dari Diana Ross di sekitar pertengahan 80-an. Lagu ini cocok sekali untuk orang-orang sibuk seperti kita. Berikut cuplikannya:
”Do you know where you’re going to? Do you like the things that life is showing you.
Where are you going to? Do you know?”

“Do you get what you’re hoping for? When you look behind you there’s no open door
What are you hoping for? Do you know?”

Dalam kesendirian ada ketenangan

Dalam ketenangan ada cahaya kelembutan

Dengan cahaya itulah aku melihat jalan

Dan itulah sejatinya petunjuk kehidupan

Tinggalkan sebuah Komentar

Life Is Beautiful

Suatu hari seorang pria menemukan sebuah bingkisan besar di depan rumahnya. Tertulis jelas nama si pengirim, tetangga si pria tersebut. Dengan riang si pria membuka bingkisan tersebut. Tak disangka-sangka, isinya adalah setumpuk kotoran sapi!
Seandainya Anda menjadi pria tersebut kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Mungkin ada yang akan menjawab : mendatangi rumah tetangga Anda sambil mencaci maki, mengirim balik bingkisan ‘istimewa’ tersebut plus surat sakit hati, melaporkan ke ketua RT bahwa tetangga Anda sudah melakukan tindakan mengganggu kenyamanan orang lain dan lain sebagainya yang bisa memuaskan kemarahan Anda.
Namun apa yang pria dalam cerita di atas lakukan? Ia ternyata merasa sangat senang dengan kiriman kotoran sapi tersebut. “Tetanggaku sangat perhatian. Ia tahu persis bahwa rumput dan tanamanku tak terlalu subur. Karena itu ia menyediakan pupuk untukku.” Bukannya marah, ia justru merasa sangat berterimakasih pada si tetangga.
Cerita menarik tersebut dikutip dari Life is Beautiful : Sebuah jendela untuk melihat dunia, karya Arvan Pradiansyah. Pesan utama dari buku ini adalah kemampuan kita untuk menikmati hidup sangat tergantung dari jendela kita memandang kehidupan itu sendiri. Jadi, bila Anda kerap merasa selalu sedih dan tak pernah puas dengan hidup Anda, buanglah jendela Anda saat ini. Tukarlah dengan jendela baru.
Jendela yang dimaksud adalah paradigma. Paradigma adalah sebuah kristalisasi dari berbagai macam faktor seperti pendidikan, pengalaman, agama, keyakinan, kepercayaan, pergaulan, media massa dan sebagainya. Jika kita melihat melalui jendela yang buram, maka benda-benda, orang-orang, pohon-pohon semua akan tampak kusam. Katakanlah seorang napi yang kabur dari penjara cenderung bersikap penuh curiga pada semua orang. Polisi yang lewat disangkanya akan menangkap dirinya. Ia cemas karena seorang ibu tak sengaja melihat-lihat ke arahnya. Dikiranya si ibu pernah melihat fotonya di koran sebagai tersangka. Bahkan seorang anak yang tersenyum ke arahnya dikira mengejek akan getir nasibnya. Padahal realitas yang sebenarnya tidaklah demikian. Paradigma si napi yang membuatnya berpikir begitu.
Kapankah kita dapat mengatakan bahwa hidup ini indah? Apakah ketika kita terbebaskan dari masalah? Padahal dalam hidup kita tak pernah dapat luput dari berbagai masalah. Selepas menghadapi satu masalah, masalah yang lain datang menghampiri. Mulai dari jalanan macet, banjir, tingkat kriminalitas yang tinggi, bos yang cerewet, suami atau istri yang pencemburu, anak-anak yang nakal dan masih banyak lagi.
Buku ini memberikan beberapa tips, agar hidup tetap bisa terasa indah bersama masalah. Dan ini kembali pada kata ajaib tadi: paradigma. Ini langkah pertama yang harus kita selesaikan, mengubah paradigma. Kita mengeluh karena kita menganggap masalah sebagai beban dan hambatan. Seandainya kita berpikir bahwa masalah adalah sarana bagi kita untuk berkembang dan mengeksplorasi potensi yang ada dalam diri kita, justru masalah akan menjadi sesuatu yang kita nanti-nantikan. Bukankah seorang pelajar selalu antusias meski harap-harap cemas menanti saat ujian tiba? Kalau akibat sakit atau berhalangan, kita gagal ikut ujian, kita justru akan memohon-mohon agar diberikan kesempatan untuk ujian susulan, supaya bisa lulus dan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Masalah dalam hidup bekerja dengan cara yang persis sama.
Kedua, kita harus bisa mengetahui mana masalah yang merupakan persoalan besar dan mana yang bukan. Caranya mudah. Bayangkan setahun dari sekarang, adakah Anda masih akan bersedih bila mengingat masalah tersebut. Kalau jawabannya tidak, berarti kegusaran dan kegundahan Anda yang besar saat ini hanya menghabiskan energi untuk hal yang tak terlalu penting. Klien yang membatalkan janji, teman sekantor yang iri, orang yang menggores mobil Anda memang menyebalkan. Tapi mereka tak sepantasnya menyita perhatian dan kemarahan Anda sedemikian besar.
Mengetahui hal-hal yang paling penting penting dalam kehidupan kita adalah yang terpenting. Karena sebelum kita menemukannya semua hal akan nampak penting, dan semua hal bisa terasa mengganggu.
Masih ada beberapa tips lagi dari buku ini yang dapat dilakukan jika kita menghadapi persoalan hidup. Sekali kita dapat mengubah paradigma kita, maka seluruh dunia yang terbentang di hadapan kita akan berubah. Karena kita melihat dunia berdasarkan apa yang kita yakini dan bukannya berdasarkan dunia itu sesungguhnya. Maka indah atau tidaknya dunia bukan terletak pada dunia itu sendiri, tapi pada apa yang berada dalam diri kita. Jendela yang bersih membuat kita dapat memaknai kehidupan di luar jendela itu dengan keindahan.

Jendela Bersih : Syarat Pokok Menikmati Hidup
Dalam buku ini, Arvan menyebutkan beberapa kualitas hati yang mesti kita penuhi untuk mendapatkan jendela yang bersih sebagai syarat pokok menikmati hidup. Pertama, memberi lebih banyak tanpa memikirkan balasan apa yang akan kita terima. Hal ini tentu saja akan menjadi mudah apabila kita sudah mengubah paradigma tentang dunia. Bahwa dunia bukanlah sepotong kue besar yang harus diperebutkan bahkan kalau perlu dengan sikut-menyikut, karena khawatir tidak akan kebagian. Keajaiban dari memberi adalah kita tidak akan pernah mengalami kekurangan, justru akan bertambah kaya.
Kedua, bersyukur atas apapun yang kita alami, apakah itu terlihat sebagai kejadian yang baik atau buruk. Karena seringkali kita menyangka apa yang kita alami adalah sesuatu yang buruk, padahal di waktu mendatang hal itu justru baik untuk kita dan begitu pula sebaliknya.
Ketiga, pasrah dengan paradigma baru. Umumnya orang mengartikan pasrah sebagai menyerah. Menurut Arvan pandangan ini mestinya direvisi, karena pasrah semestinya berarti berusaha sekuat tenaga dengan segala daya yang kita miliki untuk mencapai tujuan. Setelah itu barulah menyerahkan hasil akhir pada kehendak Tuhan. Karena kita hanya bisa mengontrol usaha kita, bukan hasilnya. Kepasrahan macam inilah yang disebut Arvan sebagai bentuk spritulitas tertinggi.
Keempat adalah kemampuan memaafkan orang lain. Kalau saja kita memahami bahwa memaafkan orang lain sangatlah penting untuk kesehatan fisik dan mental kita sendiri, kita tak akan rela berlama-lama memendam dendam. Berbagai penelitian medis membuktikan ketidakmampuan kita memaafkan orang lain dapat menimbulkan berbagai penyakit berbahaya.
Kelima, bersabar. Definisi kesabaran di sini adalah kemampuan menyatukan badan dan pikiran kita di satu tempat. Apabila kita hendak berangkat ke suatu tempat untuk menjalani tes kerja padahal kemacetan lalu lintas menggila dan menyergap kendaraan kita hingga tak bisa bergerak kemanapun, kita pasti akan merasa tak sabar. Kenapa? Karena pada saat itu pikiran kita sudah melayang ke tempat tes, padahal fisik kita terperangkap dalam kemacetan. Kesabaran adalah kemampuan untuk menyatukan pikiran dan tubuh kita.
Keenam dan ketujuh adalah kejujuran dan keberanian. Dua hal ini baru bisa ‘nyaring’ bunyinya kalau bisa berkolaborasi dalam diri setiap manusia. Kejujuran adalah hal yang sangat penting dan dibutuhkan semua orang. Namun kejujuran saja tidak cukup. Keberanian diperlukan untuk menyuarakan kejujuran ini. Dan keberanian hanya dapat terwujud apabila kita memiliki kemampuan menaklukkan rasa takut dalam diri. Ketika masa orde baru, banyak orang menyadari bahwa pemerintah berlaku represif dan memasung kebebasan berpikir masyarakat. Hanya segelintir oranglah yang memiliki keberanian menyampaikan kejujuran dengan suara lantang. Orang-orang seperti inilah yang sesungguhnya telah sampai pada inti keindahan hidup itu sendiri. Orang-orang yang memiliki jendela yang bersih.
Buku ini mengajak para pembaca untuk lebih banyak melakukan perjalanan ke dalam diri. Hidup ini bisa terasa indah memang bukan karena apa-apa yang berada di luar diri kita tapi karena apa-apa yang berada di dalam. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang begitu sulit dicari. Kebahagiaan ada di sini, saat ini juga. Kalau kita tak menemukan kebahagiaan, bukanlah dunia dan orang lain yang kita ubah terlebih dulu, melainkan diri kita sendiri.
Sisi menarik dari buku ini adalah gaya bertuturnya yang banyak menggunakan cerita. Manusia; tua muda, laki-laki perempuan memang mudah terpikat pada cerita. Berbagai kisah hikmah yang terserak di dalam buku ini menjadikan pesan moral yang ingin disampaikan penulis menjadi lebih mudah melekat dalam ingatan pembaca. Cerita membuat kita mudah menyerap pesan tanpa merasa digurui atau diceramahi.
Buku ini mengandung nilai-nilai spiritual yang kental di dalamnya, termasuk hal-hal yang terkait dengan relasi manusia dengan Tuhan. Memang, penulis kadang mengambil contoh dari ritual yang dimilikinya sendiri sebagai seorang muslim, seperti menerapkan dzikir Alhamdulliah (Segala puji bagi Allah),Subhanallah (Maha Suci Allah), Allahu Akbar (Allah maha Besar) sebagai tiga kunci hidup yang bahagia. Meskipun dari segi bahasa mungkin tak terlalu akrab bagi pemeluk agama lain, tapi secara substansi hal ini bisa tetap dilaksanakan oleh pemeluk agama dan kepercayaan apapun selama ia mempercayai keberadaan dan kekuasaan Tuhan.
Sebagaimana kelemahan buku yang berisi kumpulan artikel pada umumnya, buku ini bukanlah merupakan suatu bangunan yang masing-masing bagiannya tampak betul-betul harmonis satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan masing-masing tulisan tadinya memang artikel yang berdiri sendiri dan dikodifikasi kemudian karena punya kesamaan tema.
Pada beberapa bagian juga terlihat ada pengulangan pesan. Meskipun demikian hal tersebut tidak mengganggu kenikmatan pembaca secara keseluruhan. Mungkin trend pembaca Indonesia justu lebih senang tulisan-tulisan pendek ketimbang harus membaca yang panjang-panjang. Karena dengan waktu dan energi yang tak begitu besar, pembaca bisa memperoleh asupan kognisi dan bahan perenungan spiritual yang berarti. Buku ini dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
*****

Bisa dipastikan semua manusia menginginkan hidupnya bahagia. Namun masalahnya kebahagiaan tidak datang dengan begitu saja. Harus ada usaha untuk memperoleh kebahagiaan. Karenanya banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan, ada yang mencari bahagia dengan kesenangan atau hobi, ada pula yang mencarinya dengan mengejar kesuksesan karena diyakini bahwa kesuksesan akan membawanya pada kekayaan dan kekayaan akan membuatnya bahagia.

Namun kesenangan atau hobi hanya membuat kita bahagia saat kita melakukan aktifitas hobi kita, setelah itu kita kembali pada persoalan hidup yang menghimpit kita dan membuat kita tidak bahagia. Kesuksesan dan kekayaan tak menjamin kita hidup bahagia. Kita sering mendengar orang-orang yang berada dalam puncak kesuksesannya ternyata mengalami depresi yang begitu dalam. Lalu dimanakah dan apa yang sebenarnya membuat kita bahagia ?

Arvan Pradiansyah, penulis buku-buku motivasi You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful (2004), dan Cherish Every Moment (2007), dalam buku terbarunya mencoba mengungkap rahasia memperoleh kebahagiaan. Berdasarkan pengalamannya dalam memberikan training-training motivasi ia meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif.

Jadi, kunci memperoleh kebahagiaan sebenarnya ada dalam pikiran kita dan sangat tergantung ada pikiran yang kita pilih. Apabila kita memilih pikiran negatif, seluruh diri ktia menjadi negatif. Sebaliknya, jika memilih pikiran positif, kita akan senantiasa dienuhi oleh rasa bahagia. Karenanya kita harus menguasai pikiran kita, melatih, dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal positif.

Bagaimana cara melatih dan menguasai pikiran kita ? Dalam buku ini Arvan memberikan suatu rumusan rahasia yang sistematis yang disebutnya sebagai The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), G(Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah).

Sekilas rumusan yang dipaparkan Arvan memang mirip dengan karya terkenal Stephen R. Covey, The 7 Habits for Highly Effective People. Seperti yang diakui oleh Arvan dalam buku ini, rumusannya sedikit banyak terinspirasi oleh buku terkenal Covey tersebut, namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat perbedaan antara 7 Habits dengan The 7 Laws. Bahkan dapat dikatakan bahwa The 7 Laws dapat dilihat sebagai kelanjutan perjalanan kemanusiaan kita yang telah diawali oleh The 7 Habits.

Jadi The 7 Laws of Hapiness adalah pelatihan pikiran yang sistematis dan sebuah metode untuk menumbuhkan kebagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhaitan pada pikiran positif tersebut. The 7 Laws melatih kita untuk menyaring dan memilih pikiran-pikiran positif dan melatih kita untuk membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi.

Salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Arvan tampaknya sangat prihatin dan geram dengan gempuran media masa baik media cetak, maupun televisi umumnya memberi kontribusi negatif pada pikiran kita. Secara terang-terangan dia memberi contoh salah satu acara TV yang merusak pikiran kita. Arvan mengkritik acara Empat Mata yang dipandu Tukul Arwana. Bahkan ia secara terang-terangan mengatakan bahwa acara tersebut sebenarnya hanyalah berisi sampah karena selalu menertawakan orang lain dan sering menggunakan kata-kata kasar seperti “bukan manusia”, “seperti monyet”, “keturunan iblis”, dan sebagainya. Bagi Arvan acara seperti ini akan semakin menghilangkan rasa kasih (rahasia ke 4 dalam The 7 Laws) dalam diri kita karena tanpa disadari, kata-kata negative Tukul akan meresap dalam pikiran kita jika kita terus menonton acara tersebut.

Berbeda dengan buku-buku Arvan sebelumnya yang merupakan kumpulan tulisannya di berbagai media. Maka bukunya kali ini merupakan hasil pemikirannya yang utuh dan sistematis. Apa yang dikemukakannya disajikan dengan sederhana dan mudah diingiat karena ketujuh rahasia bahagia itu diilustrasikan dalam bentuk bangunan sebuah rumah. Dalam paparannya Arvan tak hanya memberikan teori-teori yang mengawang-awang, melainkan diungkapkan dengan gaya yang bersahaja, mudah dipahami dan menggugah kesadaran pembacanya akan apa yang mungkin selama ini terlupakan.

Banyak contoh-contoh yang sederhana namun memberi banyak pelajaran berharga. Umumnya apa yang diungkapkannya dalam buku ini kita semua sudah mengetahuinya, namun dengan membaca buku ini seolah kita dibangunkan dari tidur panjang kita dan disadarkan akan berbagai pikiran negatif yang mungkin secara tidak kita sadari terus kita pelihara dalam pikiran kita sehingga membuat kita tidak bahagia.

Bagi saya hal yang paling menarik dalam The 7 Laws adalah bagaimana Arvan mentutup rahasia memperoleh kebahagiaan dengan prinsip Surender (Pasrah). Dengan gamblang Arvan mengungkapkan bahwa setelah melalui enam rahasia untuk mencapai kebahagiaan, kebahagiaan belum akan tercapai sebelum kita menjalankan rahasia yang ketujuh, yaitu Surender (Pasrah). Pasrah adalah kunci dari semua perjalanan kita , sebuah kata pamungkas bahwa di atas segala usaha dan kemampuan kita ada satu kekuatan yang berada di atas segala kekuatan dimana kita bergantung sepenuhnya pada kekuatan tersebut, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Inilah yang mungkin membedakan Arvan dengan penganut aliran-aliran positif thinking lainnya yang terkadang hanya menonjolkan kekuatan manusia untuk memilih pikiran yang positif untuk memperoleh kebahagiaan.

Buku ini juga dikemas dengan menarik, mulai dari pilihan font yang nyaman untuk dibaca, ilustrasi yang menarik, layout halaman dalam yang dinamis, membuat buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Selain itu, karena buku ini mengajak pembacanya untuk memperoleh kebahagiaan , tampaknya buku ini sangat pantas untuk dijadikan sebagai kado bagi sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang kita kasihi. Buku ini juga tampaknya tak cukup dibaca hanya satu kali saja. Seperti yang diungkap Arvan bahwa ketujuh rahasia hidup bahagia ini harus sering dipraktekkan dan dilatih secara berulang-ulang. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita mulai kendor dalam mengelola pikiran kita, kita mulai merasa tak bahagia kembali, mungkin saat itulah buku ini perlu dibaca ulang kembali.

Tinggalkan sebuah Komentar

Nyanyian-Nyanyian Bambu .. by Gede Prama

Di suatu waktu, bambu di hutan iri dengan nasib baik seruling. Suaranya dikagumi orang sekaligus mewakili keindahan. Merasakan dalamnya rasa iri bambu, seruling pun mencoba menjelaskan. “Hai bambu”, demikian seruling memulai penjelasan. “Dulunya, saya juga bambu seperti kalian. Sebelum menjadi seruling, kaki saya dipotong golok, badan saya dihaluskan pisau tajam, yang paling menyakitkan dada saya dilobangi”.

Sejujurnya, demikian juga perjalanan manusia-manusia bercahaya. Tidak ada diantara mereka yang perjalanannya hanya lurus mulus. Sebagian nyaris terbunuh (Nelson Mandela), sebagian bahkan benar-benar terbunuh (Mahatma Gandhi, John Lennon). Tidak adilnya, sejumlah orang mengira kehidupan mereka tanpa godaan dan cobaan, tiba-tiba sudah mengagumkan di atas sana.

Inilah yang kemudian dengan mudah membangkitkan rasa iri. Andaikan banyak orang tahu betapa bahayanya jalan-jalan kehidupan   di   atas   sana,   mungkin  sebagian   orang   akan memilih aman nyaman menjadi orang biasa. Namun begitulah ciri utama banyak kehidupan, serupa dengan bahayanya strum listrik, baru percaya setelah pernah kena strum.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa nyaris semua anak muda demikian bersemangat dan bertenaga. Sekolah, kursus, mengikuti aktivitas organisasi, mencari bea siswa dan segudang kegiatan bertenaga lainnya. Intinya satu, bila orang bisa kenapa saya tidak. Keyakinan seperti ini juga yang menyebabkan sejumlah motivator mendorong banyak orang agar cepat kaya raya. Anthony Robbin sebagai contoh, memberi judul karyanya dengan Awakening The Giant Within. Membangunkan raksasa yang ada di dalam diri.

Premis orang di jalan ini jelas sekali. Pertama, tidak ada istilah tidak bisa. Kedua, kemampuan di dalam sini tidak terbatas. Makanya disejajarkan dengan raksasa. Ketiga, lebih tinggi kehidupan yang bisa diraih lebih baik. Dan ternyata, bagi mereka yang sudah menua bijaksana akan tersenyum penuh pengertian. Dalam kehidupan, ada yang bisa dicapai, ada yang hanya layak disyukuri. Ada wilayah kehidupan yang bisa digedor dengan kerja dan usaha. Ada wilayah kehidupan yang hanya menjadi milik misteri.

Sampai di tingkatan ini, melarang anak muda berusaha keras tentu bukan pilihan bijaksana. Sebagaimana cemara yang sejuk di gunung, kelapa yang bertumbuh kokoh di pantai, biarkanlah mereka bertumbuh sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Namun bagi yang sudah menua, disamping badan sudah berhenti berbau parfum, digantikan oleh bau minyak kayu putih, mungkin ada gunanya mendengarkan nyanyian-nyanyian bambu.

Coba perhatikan bambu dalam-dalam. Ia kuat dan kokoh tanpa  pernah  bisa  dicabut  angin.  Dan alasan utama kenapa bambu kuat karena berakar kuat ke dalam. Ini berbeda dengan sebagian manusia yang hidupnya lemah dan keropos, terutama karena berakar ke luar (pangkat, kekayaan). Ini memberi inspirasi, belajarlah bertumbuh dengan berakar ke dalam. Ke dalam persahabatan dan rasa syukur atas berkah kehidupan.

Kedua, bambu senantiasa segar di segala musim. Ini berbeda dengan kebanyakan manusia yang hanya segar bila punya uang, naik pangkat, dipuji. Dan karena tidak ada kehidupan yang selalu kaya dan bahagia, maka layak direnungkan untuk belajar indah di setiap langkah. Kaya indah karena banyak yang bisa dibantu dengan kekayaan. Miskin juga indah, karena melalui kemiskinan manusia tidak perlu takut kehilangan. Naik pangkat indah karena penuh pujian. Pensiun juga indah. Berlimpah waktu yang tersedia untuk diamalkan.

Nyanyian bambu yang ketiga, setelah tinggi bambu merunduk rendah hati. Siapa saja yang setelah tinggi kemudian tinggi hati, ia sedang menabung untuk keruntuhannya di kemudian hari. Dan puncak cerita bambu, ketika bambu dibelah di dalamnya kosong.

Bila boleh jujur, kenapa banyak kehidupan mudah stres, marah, tersinggung, karena di dalamnya penuh berisi. Dari harga diri, kekayaan, sampai status sosial. Sehingga begitu ada orang yang berperilaku berbeda dari yang diharapkan, godaan untuk marah mudah muncul. Dan bambu mengajarkan, semua yang hebat-hebat yang membuat manusia mudah marah, suatu hari akan berakhir dengan kekosongan.

Uniknya kekosongan, begitu ia muncul secara alamiah akan membawa pelayanan di belakangnya. Ia sesederhana air yang membawa basah, api yang membawa panas. Persis seperti bambu, di dalamnya memang kosong tetapi terus menerus melayani kehidupan dengan berbagi kesegaran di segala musim.

Tinggalkan sebuah Komentar

Taman Kedamaian Indah Menawan ..by Gede Prama

Di suatu waktu, ada tikus serakah yang menjumpai penyihir. Terganggu oleh ulah kucing, ia minta dirinya diubah jadi kucing. Baru sehari jadi kucing, ia sudah tidak puas, memohon pada penyihir biar dirubah jadi anjing karena terganggu oleh anjing. Sehari kemudian karena dikejar serigala, ia minta berubah lagi serigala. Satu hari berikutnya karena serigala ini dikejar harimau, ia minta disihir biar jadi harimau. Ketika menjadi harimau, keserakahannya memuncak, ia mau memakan penyihir agar hidupnya tidak berubah-ubah lagi. Dan marahlah penyihir, dikembalikanlah tikus ini menjadi tikus kembali.

Kalau boleh jujur, nasib banyak manusia serupa tikus tadi. Keserakahan membuat hidup manusia berkejaran, berkejaran dan berkejaran. Selalu mengira rumah ada di depan. Ketika sekolah dasar mengira sekolah menengah pertama enak. Tatkala sekolah menengah pertama menduga sekolah menengah atas yang indah. Di bangku kuliah menghayal dunia kerja yang menawan. Sesudah kerja dan banyak stres berfantasi pensiunlah istirahat sebenarnya. Setelah pensiun kehilangan rasa hormat orang, penghasilan berkurang, sakit-sakitan.

Sehingga menimbulkan pertanyaan, di mana rumah kedamaian  yang sesungguhnya? Setelah dikejar-kejar demikian banyak orang, dicari-cari melalui segudang materi, digali-gali melalui banyak buku suci, tetap saja manusia berkejaran, berkejaran dan berkejaran.

Doggy mind, lion mind

Di negara-negara Barat umumnya, banyak orang menyukai memelihara anjing. Tidak saja menjadi penjaga, anjing juga menjadi sahabat. Permainan yang kerap dilakukan bersama anjing adalah melemparkan plastik dicat mirip tulang berisi daging. Kemana pun daging palsu ini dilempar, ke sanalah anjing mengejarnya.

Serupa dengan anjing yang mengejar daging palsu, kehidupan sebagian manusia juga berlarian ke sana ke mari mengejar kepalsuan. Uang bukan, jabatan bukan, rumah bukan, mobil bukan. Tiba-tiba sudah tua dan sakit-sakitan. Dalam meditasi, orang-orang seperti ini akan berputar-putar ke sana ke mari dibawa pikirannya. Tambah keras ia berusaha, tambah keras putaran pikirannya. Ini yang disebut doggy mind.

Berbeda dengan anjing, singa secara mudah bisa membedakan daging palsu dengan daging asli. Tidak saja tidak lari ke sana ke mari, namun dengan tenang ia menatap semuanya tanpa ketakutan. Itu sebabnya singa kerap digunakan simbol pencerahan karena diam tenang tidak menakuti apa-apa. Termasuk tidak menakuti kematian.

Hal yang sama juga terjadi dengan orang-orang yang perjalanan latihannya sudah jauh. Para master badannya memang menua, tatkala putaran waktunya sakit ia pun sakit, bila saatnya tiba untuk meninggal ia juga meninggal. Bedanya yang mengagumkan, para master menjalani semuanya dengan ketenangan sempurna. Makanya banyak guru menegaskan, hasil latihan adalah boundless capacity to suffer. Kemampuan untuk menderita secara tidak terbatas. Ini yang kerap disebut lion mind.

Rumah yang sesungguhnya

Sharon Salzberg pernah mengumpulkan pengalaman-pengalaman guru meditasi yang perjalanan latihannya sudah jauh. Dari Joseph Goldstein, Jack Kornfield, Larry Rosenberg yang terkenal, Kamala Masters yang ibu rumah tangga biasa, Bhante Gunaratana yang sudah berpraktek lebih dari lima puluh tahun, sampai dengan Ajahn Sumedo yang guru. Dalam karya indah berjudul Voices of insight, terlihat jelas bagaimana orang-orang berlatih itu  hidupnya berbeda: tenang, damai, tenteram, bebas!

Ada yang ditarik oleh meditasi karena ingin berjumpa diri sesungguhnya, ada karena dihempaskan kehidupan lewat godaan dan cobaan, ada juga bermeditasi karena mendalami kehidupan suci. Namun apa pun latar belakangnya, tetap diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk senantiasa berlatih, berlatih dan berlatih. Bedanya dengan orang kebanyakan yang dibuat amat sibuk oleh seluruh keriuhan kehidupan luar (dengarkan radio, nonton televisi, berdebat), penekun-penekun meditasi memusatkan seluruh perhatiannya pada semesta di dalam diri.

Perhatikan hasil perenungan dalam dan mengagumkan mistikus sufi abad tiga belas bernama Jalaludin Rumi dalam salah satu maha karyanya berjudul The guest house. Hidup ini serupa dengan rumah penginapan. Setiap hari ada saja yang datang silih berganti. Kebahagiaan, kesedihan, pujian, cacian. Belajarlah tersenyum ramah pada semuanya. Bahkan pada petaka, bencana, kematian sekali pun. Sebab semuanya menghadirkan bimbingan-bimbingan sekaligus tuntunan-tuntunan. Semuanya menggoreskan makna.

Tidak kebayang indah dan bebasnya kehidupan ala Jalaludin Rumi. Sekaligus memberikan bayangan, inilah rumah kedamaian yang sesungguhnya, rumah untuk semua. Bagi manusia kebanyakan, senyuman baru hadir ketika tamu kehidupan adalah kebahagiaan, pujian. Dan penolakan, kemarahan bahkan penghakiman mudah sekali muncul tatkala tamunya adalah kesedihan, rasa sakit, makian.

Itu sebabnya praktisi-praktisi meditasi yang sudah berjalan teramat jauh, berfokus hanya pada satu hal: the unbroken continuity of mindfulness. Apa pun yang terjadi, semuanya dilihat dengan penuh kesadaran. Sebagaimana Rumi, punya uang senyum, punya hutang senyum, dibilang baik senyum, disebut munafik senyum.

Seorang cucu bertanya ke neneknya ketika kesedihan membuat keyakinannya akan Tuhan jadi mengendur. Dengan lembut nenek penyabar sekaligus bijaksana ini bertanya: di buku suci mana ditulis kalau Tuhan hanya hadir dalam kebahagiaan? Dalam khotbah Buddha yang mana disebutkan kalau penderitaan hanyalah sampah yang layak dibuang?

Cerita nenek ini serupa dengan pengalaman mistikus sufi Hazrat Hinayat Khan. Suatu hari Khan menjumpai Kekasih Yang Maha Mencintai. Dengan bersujud pencinta ini berbisik: ‘Engkau yang mengirim musibah buat orang jahat, Engkau juga yang memberi berkah pada orang baik’. Dalam senyum lembut dikulum Kekasih ini menjawab: ‘bukan, sekali lagi bukan, orang jahat mengundang musibahnya sendiri, orang baik menarik berkahnya sendiri’.

Belajar dari respon indah Kekasih yang pernah dijumpai Khan, rumah kedamaian sesungguhnya adalah tempat di mana semuanya diterima dengan senyuman. Semuanya sudah ada hukumnya, sesederhana menyentuh air kemudian basah, menyentuh api kemudian terbakar. Tatkala semuanya bermandikan senyuman, kesadaran  kemudian membimbing manusia menjumpai taman kedamaian indah menawan. Bukannya serba membahagiakan, namun serba senyuman.

Di taman kedamaian ini,  setiap pagi manusia bergumam tenang, ada 24 jam yang segar menunggu untuk diisi dengan senyuman, karena senyuman membantu kita memasuki hari dengan kelembutan, dengan pengertian.

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.